Jumat, 01 April 2011

Aku dan Dirimu, Saat Kita Memulainya

Serentang waktu tak terasa telah kita lalui. Dimulai saat melihatmu di sudut ruangan itu. Seiring berjalannya waktu aku pun mengenalmu. Siapa namamu, di mana rumahmu, bahkan siapa orang tuamu, aku pun akhirnya tahu. Kita lalu semakin akrab. Canda tawa banyak terdengar saat kita bersama. Ditingkahi usilnya teman yang lainnya, kita pun semakin dekat. Dalam hatiku, engkau adalah orang yang menyenangkan. "Andaikan saja...." begitulah sekelebat bisikan di dalam hatiku saat kita sering bersama.

Menjelang hari raya itu engkau memintaku untuk dapat menemaniku menyusuri jalan. Saat hari itu tiba, ku jemput dirimu di rumah. Aku masih ingat, saat itu engkau duduk di kursi bambu di depan ruangan yang engkau sebut 'minimarket'. Kau sudah siap, memakai jaket warna merah dan membawa tas ransel kesukaanmu. Kita pun berangkat. Panas dan hujan menghiasi perjalanan kita berdua. Bahkan kita pun berbagi jas hujan. Aku pakai bajunya, engkau memakai celananya. Kita pun sempat singgah di sebuah tempat, hanya untuk shalat dzuhur, istirahat sejenak, dan menunggu hujan sedikit reda.

Saat seluruh titik-titik telah kita singgahi, waktu masih sore. Matahari bersinar terang. Kita pun melanjutkan perjalanan. Tidak ada tujuan pasti. Kita pun sempat berhenti sejenak. Ya, kita berhenti untuk memenuhi keinginanmu untuk mengambil gambar di tempat-tempat dengan latar pemandangan menarik. Hingga akhirnya aku pun mengajakmu menuju ke sebuah tempat tinggi. Aku sendiri belum pernah ke tempat tinggi itu. Jalan menuju ke sana pun aku belum tahu, hanya mengikuti papan-papan penunjuk jalan. Dengan ditemani hujan rintik dan melewati jalan kecil berasapal rusak, akhirnya kita pun tiba di tempat tujuan.

Ya, itu adalah tempat tinggi, tertinggi di kawasan itu. Gerimis masih turun, menemani langkah-langkah kita menaiki anak tangga menuju titik tertinggi di tempat tinggi itu. Kau pegang tanganku. Demi Allah, aku berdebar. Ya, hatiku sangat berdebar. Tak ku duga engkau menggandeng tanganku. Ku rasakan sejuta rasa saat itu. Ku tenangkan diri. Mungkin engkau hanya ingin sekedar berpegangan agar tidak terpeleset saat menaiki anak tangga yang memang curam itu. Namun hatiku berbisik lain. Ada yang lain dalam pegangan tanganmu itu. Tapi aku masih belum yakin, meski dada ini semakin bergemuruh.

Akhirnya kita pun tiba di puncak tempat tinggi itu. Gerimis masih turun. Angin bertiup cukup kencang hingga menyibakan helai-helai rambut tipismu. Kabut menyelimuti lereng-lereng di sekitar kita. Curahan air hujan yang lebih deras tampak terlihat di seberang tempat kita berdiri. Hawa dingin terasa di sekujur kulit. Engkau berdiri dan memandang sekeliling, dengan tangan terlipat. Raut mukamu semakin merona dan bibirmu sedikit memucat. Ya, engkau tampak sedang menahan dinginnya udara di puncak itu. Jaket yang engkau pakai sepertinya tidak mampu menahan hembusan udara dingin.

Kita tidak berlama-lama di tempat itu. Engkau merasa semakin dingin. Engkau mengajak ku turun kembali. Sesaat di anak tangga teratas, engkau mendekatkan tubuhmu ke tubuhku. Ku merasa engkau membutuhkan kehangatan. Ya, engkau memang sedang kedinginan. Ku pegang pundakmu. Ada sedikit rasa malu. Namun lama-lama raa di hati menuntunku untuk terus mendekapmu. Ya, aku memelukmu, bukan hanya sekedar meletakan tanganku di pundakmu. Aku merasakan getaran di hati. Mungkinkah ini asmaradhana ?

Kita pun menuruni anak tangga itu. Gerimis mereda. Di sebuah bangunan terbuka, kita berhenti. Duduk di bangku. Berdua. Saling bersebelahan. Telapak tanganmu kau satukan, tanda engkau masih kedinginan. Hatiku berbisik "dia kedinginan, peluk dia dan biat tubuhnya sedikit hangat". Dan aku pun lalu memeluknya. Ku tarik tubuhnya. Ku peluk dirinya. Semilir angin dingin dan hembusan kabut putih menjadi saksi. Hati kami telah bersatu.

Saat hari semakin sore, kami meninggalkan tempat tinggi itu. Ku antar dia pulang kembali ke rumah. Sesekali rintik hujan masih menyertai perjalanan pulang kami. Jalan yang kami lalui tidak sama dengan jalan sebelumnya. Di sebuah mushola kecil, kita singgah untuk shalat azhar. Kita berjamah, berdua. Hujan rintik sedikit turun saat kita melanjutkan perjalanan pulang. Di sebuah warung kecil di sebuah kota kecil, kita singgah untuk makan malam. Kita makan berdua. Usai makan, kita pun melanjutkan perjalanan. Shalat maghrib kita tunaikan di sebuah mushola kecil di tepi jalan besar itu.

Malam belum larut saat kita mendekati rumahmu. Sepanjang perjalanan engkau terlihat lelah. Selepas lampu merah terakhir, hatiku semakin merasa bahwa gelora di dada ini bukan hal yang biasa. Laju kendaraan ku perlambat untuk menikmati sisa-sisa kebersamaan denganmu di hari ini. Ku pegang erat tangan kirimu dengan tangan kiriku. Kau sambut sentuhan tanganmu dengan genggaman erat jari-jarimu. Aku dan dirimu semakin merasa bahwa kita telah menyatu dalam gelora asmaradhana.

Hari itu kita telah memulai sesuatu yang baru. Perjalanan kita berdua di hari itu memang untuk dikenang. Tetapi rasa yang tumbuh dan bersemi di hati kita sejak saat itu adalah untuk kita jalani berdua, selamanya. Di hari itu aku dan kau saking menyadarai bahwa cinta dan kasih sayang dua insan telah menyatu. Semenjak hari itu aku sungguh sangat mencintaimu. Aku ingin menghabiskan seluruh sisa hidupku bersamamu....

Ya Allah Ya Rabb, ridhailah kami.
Amiin......



*****
Didedikasikan untuk kekasihku dunia akhirat.